Published: Juni 28, 2018
Ketika aku menjadi tungku
Berharap kaulah baranya
Dan cinta kita adalah nyala api yang hangatkan pagi
. . .
(Air Api diambil dari Karena Aku Perempuan)
Puan Siti yang shaleha !
Betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah kauterima karena hatimu yang begitu mulia dan suci.
kata-katamu yang lembut dan akhlak yang indah adalah buah dari pohon iman. Allah memberkatimu.
Senantiasa kupanjatkan do'a demi kebaikanmu, semoga Allah menuntunmu di setiap gelap menuju cahaya, menolongmu dari hari-hari yang buruk, perbuatan-perbuatan yang buruk,peristiwa-peristiwa yang buruk dan semoga Allah memberikan penghalang bagi siapa pun yang hendak melakukan keburukan padamu.
Kudengar belakangan ini kau gemar bershalawat. Semoga Allah mempertemukanmu dengan Nabi Muhammad SAW di alam mimpi. Sahabatku, apa kau sedang tidak berminat mendalami sastra atau memang karena pemuda yang dermawan itu menghabiskan seluruh waktumu sehingga kau tak sempat duduk dengan buku walaupun di sebuah senja yang ranum. Uni, sastra adalah bagian dari nilai kehidupan. kau harus mempelajari semua bagian dari kehidupan dan tidak bisa melepas satu bagian pun.
Dalam hal ini uni, umpama :
kau takkan mampu memisahkan angin dari dinginnya
kau takkan mampu memisahkan api dari panasnya
kau takkan mampu memisahkan malam dari gelapnya
kau takkan mampu memisahkan bulan dari malamnya
kau takkan mampu memisahkan sastra dari kehidupan
begitu pun aku dengan mu, kau takkan mampu memisahkan aku darimu wahai sahabat
dan bila kaumampu memisahkan aku darimu maka jangan lakukan perbuatan tidak baik itu.
Uni, jangan patahkan sayap dari seekor burung, apakah kaubisa merasakan luka dari seekor burung tanpa sayap ?
dan jika kau tak patahkan sayap seekor burung maka janganlah merebutnya dari langit dan mengurungnya dalam sangkar, apakah kaubisa merasakan kesedihan seekor burung yang bersayap, tapi tak pernah benar-benar merasakan bebasnya terbang ?
sampai di sini. Kurasa aku belum menyampaikan seluruh maksudku tapi sudah cukup malam. Semoga besok Allah menambah karunianya padamu.
Berharap kaulah baranya
Dan cinta kita adalah nyala api yang hangatkan pagi
. . .
(Air Api diambil dari Karena Aku Perempuan)
Tasikmalaya, 14 Syawal 1439 H
Puan Siti yang shaleha !
Betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah kauterima karena hatimu yang begitu mulia dan suci.
kata-katamu yang lembut dan akhlak yang indah adalah buah dari pohon iman. Allah memberkatimu.
Senantiasa kupanjatkan do'a demi kebaikanmu, semoga Allah menuntunmu di setiap gelap menuju cahaya, menolongmu dari hari-hari yang buruk, perbuatan-perbuatan yang buruk,peristiwa-peristiwa yang buruk dan semoga Allah memberikan penghalang bagi siapa pun yang hendak melakukan keburukan padamu.
Kudengar belakangan ini kau gemar bershalawat. Semoga Allah mempertemukanmu dengan Nabi Muhammad SAW di alam mimpi. Sahabatku, apa kau sedang tidak berminat mendalami sastra atau memang karena pemuda yang dermawan itu menghabiskan seluruh waktumu sehingga kau tak sempat duduk dengan buku walaupun di sebuah senja yang ranum. Uni, sastra adalah bagian dari nilai kehidupan. kau harus mempelajari semua bagian dari kehidupan dan tidak bisa melepas satu bagian pun.
Dalam hal ini uni, umpama :
kau takkan mampu memisahkan angin dari dinginnya
kau takkan mampu memisahkan api dari panasnya
kau takkan mampu memisahkan malam dari gelapnya
kau takkan mampu memisahkan bulan dari malamnya
kau takkan mampu memisahkan sastra dari kehidupan
begitu pun aku dengan mu, kau takkan mampu memisahkan aku darimu wahai sahabat
dan bila kaumampu memisahkan aku darimu maka jangan lakukan perbuatan tidak baik itu.
Uni, jangan patahkan sayap dari seekor burung, apakah kaubisa merasakan luka dari seekor burung tanpa sayap ?
dan jika kau tak patahkan sayap seekor burung maka janganlah merebutnya dari langit dan mengurungnya dalam sangkar, apakah kaubisa merasakan kesedihan seekor burung yang bersayap, tapi tak pernah benar-benar merasakan bebasnya terbang ?
sampai di sini. Kurasa aku belum menyampaikan seluruh maksudku tapi sudah cukup malam. Semoga besok Allah menambah karunianya padamu.
Sahabatmu,
Abdul Wajid Ar-rashid
0 Comments